Sudah Biasa

Sudah Biasa


Disinilah diriku, sekali lagi duduk ditepi jalan sembari kembali menatap panorama riuh jalan didepanku. Mereka menyebutku penjual asongan, pedagang kaki lima, ataupun bapak minuman pinggir jalan. Terpaan karbon monoksida hasil pembakaran kendaraan yang melaju di depanku sudah menjadi hal yang biasa bagiku, walaupun aku tahu seberapa besar dampak negatif dari hal tersebut kepada manusia parubaya sepertiku. Dunia kejam kepada manusia kalangan bawah sepertiku, disaat mereka yang memiliki takdir baik sedang berbahagia dengan canda dan tawa bersama keluarganya, aku masih harus mengumpulkan uang untuk ongkos pulang disaat hari raya nanti.

Ibu kota memang menjadi impian bagi semua orang, tapi jikalau engkau sudah tinggal disini selama lebih dari 2 tahun, engkau pasti paham bagaimana kejamnya kota ini bagi mereka yang gagal dan bernasib buruk. Bagi insan seperti diriku, kota ini adalah kota yang mengikat karena walaupun harga diriku hancur dan ragaku runtuh, aku tetap tidak bisa meninggalkan kota yang memberiku pundi-pundi uang ini. 

Sesekali kudapati pelangganku bercerita kepadaku sembari menunggu jemputan ojek online ataupun memang sengaja berhenti untuk beristirahat sejenak di sisi jalan ini. Cerita yang mereka bawakan kepadaku bervariasi, ada yang berupa cerita cinta, cerita tentang keluarga, cerita tentang sekolah maupun cerita tentang dunia kerja. Walaupun cerita tersebut berbeda-beda, dapat kupastikan kesamaan dari semuanya ialah titik berat bersaing dan menyesuaikan diri kepada lingkungan yang ternyata tidak seperti ekspetasi mereka. Namun, hanya ada satu hal yang bisa ku nasihatkan kepada mereka, “Hidup adalah anugerah dari sang pencipta, walaupun terkadang terlihat kejam suatu saat nanti pasti akan ada yang memberimu bahagia. Jikalau sudah berusaha jangan gampang menyerah, karena masa depan tidak bisa ditebak”.

Komentar